Friday, May 29, 2009

MEWASPADAI DI BALIK KONFLIK AMBALAT


Seperti telah ramai diberitakan, saat ini tengah terjadi konflik sengit antara Indonesia dan Malaysia memperebutkan blok Ambalat dan East Ambalat di Laut Sulawesi. Konflik ini terjadi menyusul klaim Malaysia atas wilayah itu. Malaysia melalui perusahaan migasnya, Petronas, bahkan pada 16 Februari lalu telah memberikan konsesi blok kaya migas itu kepada Shell (perusahaan patungan Inggeris-Belanda). Nama lengkapnya, The Royal Dutch/ Shell Group. Menurut data Ditjen Migas Departemen energi dan Sumber Daya Mineral, kawasan ini memang mempunyai kandungan minyak yang sangat besar. Diperkirakan mencapai 700 juta hingga satu miliar barel, sementara kandungan gasnya diperkirakan lebih dari 40 triliun kaki kubik (TCF). Klaim itu tentu ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Indonesia yang merasa lebih dulu menguasai wilayah itu, apalagi sebelumnya Indonesia juga telah memberikan konsesi pengelolaan migas blok Ambalat kepada perusahaan Italia, ENI, serta Blok East Ambalat bagi perusahaan Amerika Serikat (AS), Unocal. Konflik itu dikhawatirkan makin meruncing karena kedua belah pihak kini telah mengerahkan kekuatan angkatan bersenjatanya di kawasan sengketa. Bila tidak disikapi secara hati-hati, bukan tidak mungkin akan timbul perang terbuka diantara dua negeri muslim bertetangga.
Mewaspadai Konteks Global
Dalam konflik ini, hampir tidak ada pihak yang berupaya melihat bahwa ada konspirasi yang berupaya membenturkan Indonesia dan Malaysia dalam konflik abadi dan membuat negara-negara imperialis dapat melestarikan hegemoni dan penjajahannya, baik secara langsung maupun lewat Singapura. Negara kecil ini hanya kuat bila Indonesia dan Malaysia lemah akibat terus menerus berkelahi. Situasinya mirip dengan Timur Tengah, dimana antarnegeri muslim terus bertengkar memperebutkan wilayah dan daerah kaya migas, seperti antara Iran dengan Irak, Irak dengan Kuwait, antar beberapa negara Teluk, Suriah dengan Iran dan Lebanon, dan sebagainya. Memang hanya para konspirator yang akan untung besar, terlepas dari apakah Indonesia atau Malaysia yang mendapatkan hak atas kontrak bagi hasil (production sharing contract). Indikasi adanya konspirasi itu bica dibaca di koran terbitan Amerika Serikat, Los Angeles Times, edisi 4 Maret 2005, yang juga mengutip Wall Street Journal edisi sehari sebelumnya. Dikabarkan Chevron-Texaco, raksasa migas terbesar kedua di AS, sedang melirik Unocal (Union Oil Company of California). Ini kabar lama, namun jadi kian nyaring tahun ini karena laba para raksasa migas menggunung akibat melonjaknya harga minyak, sementara mereka mau menambah cadangan minyak dan gasnya. Pada Januari 2005 raksasa migas RRC, China National Offshore Oil Corporation (CNOOC), serta Royal Dutch/ Shell Group mendekati Unocal. Belum jelas siapa yang akan sukses mengakuisisi perusahaan migas terbesar kedelapan AS itu.Chevron-Texaco adalah pemilik perusahaan tambang minyak terbesar di Indonesia, PT Caltex Pasific Indonesia, juga beberapa perusahaan yang berafiliasi dengan Caltex, baik di Indonesia, Singapura maupun negara-negara lain di Asia Pasifik dan AS. Konsesi Chevron-Texaco (Caltex) diperkirakan melebihi 70 persen dari total produksi minyak Indonesia. Salah satu konsekuensinya, pemerintah, parlemen, KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), pers dan ulama perlu kian membuka mata mereka terhadap terjadinya monopoli dan oligopoli dalam penambangan minyak, jika Unocal jadi dibeli pemilik Caltex. Ironisnya, produksi Pertamina tidak sampai sepuluh persen total produksi nasional. Adapun CNOOC, sebagai pemilik saham Maxus diberitakan dalam pencemaran Teluk Jakarta dan kasus-kasus penyelewengan kontrak bagi hasil di penambangan minyak lepas pantai Jakarta. Jadi, di balik pengerahan pasukan militer Indonesia dan Malaysia, dan di balik perang diplomasi pemerintah Jakarta dan Kuala Lumpur, ada fakta Chevron-Texaco versus Shell. Sebenarnya, para raksasa migas AS -- tidak hanya Chevron-Texaco -- sudah lama menghadapi perusahaan Inggris-Belanda serta perusahaan Eropa lain. Ini terlihat dari sejarah jatuhnya tambang-tambang migas di Indonesia kepada berbagai perusahaan AS, baik di era penjajahan Belanda maupun sesudah mereka mendepak Belanda di era pemerintahan Soekarno, seperti saat perebutan Irian Barat dimana AS mendapat hadiah tambang emas Freeport. Ketika ada peristiwa PRRI dan Permesta, tambang minyak Chevron dan Texaco di Riau salah satu areal konsesi minyak mereka tidak diganggu oleh pemerintah, TNI, dan gerakan insurgensi. George Aditjondro (1999) dalam buku Tangan-tangan Berlumuran Minyak menyebut tahun 1957 Shell mulai didepak perusahaan AS. Di Malaysia Shell berkuasa sesuai sejarah imperialisme Inggris dan hadiah kemerdekaan Malaysia. Namun, itu hanya duel semu. Situasinya mirip dengan hadis Nabi Muhammad SAW bahwa musuh-musuh Islam akan memperebutkan kita bagaikan orang-orang berebut hidangan di atas meja. Mereka mungkin bertengkar, tapi bisa juga berdamai bila makanan dibagikan kepada semua pihak secara proporsional. Kesemuan itu juga terjadi saat terlihat ada kompetisi antarperusahaan migas AS.
Membangun Kesadaran
Sesungguhnya, pemilik perusahaan-perusahaan minyak dan gas itu adalah orang-orang yang memiliki tujuan hidup, ideologi, dan visi-misi yang sama, terutama bila dikaitkan dengan ambisi Yahudi menguasai dunia serta menghancurkan dan mencegah Islam kuat kembali. Sebagian saham Shell dipegang keluarga Rothschild, pendiri Bank of England, donatur Freemasonry dan gerakan penumbangan Khilafah Islam yang saat itu berpusat di Istambul, Turki. Mereka pula penyebab Palestina dicaplok Inggris yang belakangan diserahkan kepada Israel. Sementara itu, perusahaan-perusahaan migas AS, seperti Exxon dan Mobil Oil (belakangan merger menjadi Exxon-Mobil), Chevron dan Texaco (belakangan Chevron mengakusisi Texaco), dan sebagainya, dikuasai keluarga dan turunan John D Rockefeller. Kini, keluarga mereka memimpin pencegahan berdirinya kembali Khilafah Islam, institusi pemerintahan berbasis Sunnah Nabi, yang dulu ditumbangkan kapitalis Yahudi Inggris, Rothschild. Adapun Mustafa Kemal Attaturk hanya aktor lapangan. Kesamaan latar belakang dan ideologi itu yang memudahkan terbentuknya BP, gabungan perusahaan asal Inggris, British Petroleum, dengan perusahaan-perusahaan AS, Arco (Atlantic Richfield Company) dan Amoco. Apalagi, sejak dulu ada poros Anglo-Amerika (Inggris-AS) yang didasari kesamaan agama (kristen Protestan), kesamaan ras (Anglo-Saxon) dan kesamaan kepentingan dalam aspek gold (kekayaan ekonomi, termasuk tambang migas dan emas), gospel (penyebaran agama dan nilai-nilai kristen), serta glory (penguasaan dunia dan pencegahan berdirinya kembali Daulah Islam). Persaingan Chevron-Texaco versus Shell juga sama tidak jujurnya dengan persaingan antara AS dan Eropa dalam menghadapi persoalan Irak-Iran, serta reaktor nuklir Iran. Dalam perang Iran-Irak, Iran didukung Uni Soviet dan beberapa negara Eropa, sementara AS mendukung agen intelijennya, Saddam Hussein. Posisi berbeda diambil dalam penyerangan Irak tahun 2003. Begitupun dengan kasus Iran.Dapat pula dinyatakan bila Indonesia menyerahkan konsesi Blok Ambalat kepada ENI (dimiliki Italia), maka pemerintah Italia adalah pendukung kuat AS dalam memerangi umat Islam di Irak, Afghanistan dan sebagainya. Penyerahan Blok East Ambalat kepada Unocal (AS) juga sama: memodali penjajah memerangi kita dan saudara kita. Begitu pula jika Petronas (Malaysia) menyerahkannya kepada Shell: memodali Inggris dan Belanda menguasai kita. AS, Inggris, Belanda dan sekutu protestan mereka sama mendukung Israel. Saat AS mengembargo TNI, Inggris mengikutinya. Bahkan, mereka bekerja sama mengoperasikan satelit mata-mata Echelon yang bisa menyadap semua alat telekomunikasi. Berbagai kesamaan itu yang memungkinkan Petronas bekerja sama dengan perusahaan AS, Exxon-Mobil dan Chevron-Texaco, menambang minyak dan memasang pipa di Chad dan Kamerun, Afrika yang diresmikan tanggal 29 Juli 2003 (lihat arsip berita di situs Petronas). Konflik hanya memperbesar keuntungan dan kekuasaan Barat. Hampir semua senjata Indonesia buatan AS, sementara Malaysia didukung Inggris. Akan ada alasan peningkatan belanja militer yang ujung-ujungnya menggemukkan industri militer AS dan Inggris. Padahal, AS sudah diuntungkan keputusan Pengadilan AS yang mewajibkan Indonesia (Pertamina) membayar 305 juta dolar kepada Karaha Bodas Company untuk suatu klaim yang tidak ada wujudnya, tidak pernah dikerjakannya. Perusahaan-perusahaan minyak AS dan Eropa kian untung dengan kenaikan harga BBM karena sebentar lagi mereka dibolehkan membuka SPBU di sini. Mereka menghendaki harga BBM Indonesia tidak berbeda dengan harga internasional agar laba mereka tidak berkurang karena selisih kurs. Sebagai renungan, hingga akhir 2004 Chevron-Texaco dilaporkan memiliki cadangan minyak sebanyak 11,25 miliar barrel. Bayangkan pula, ketika pendapatannya melonjak 28 persen dari 121,3 miliar dolar AS tahun 2003 menjadi 155,3 miliar dolarAS tahun lalu, maka laba bersih mereka naik 85 persen dari 7,2 miliar dolar AS tahun 2003 menjadi 13,3 miliar dolar (Los Angeles Times, ibid). Adapun laba Unocal naik 88 persen dari 643 juta dolar AS tahun 2003 menjadi 1,21 miliar dolar AS tahun 2004. Kini, semua angka itu akan terus melambung karena kenaikan harga BBM domestik, reduksi pajak bagi mereka, pemberian konsesi tambang bernilai ribuan triliun rupiah, dan rakyat Indonesia, Malaysia dan lain-lain tetap saja tidak menjadi tuan di rumahnya sendiri. RI dan Malaysia harus sadar bahwa banyak pihak menghendaki mereka tetap berkelahi setelah sebelumnya gagal meraih keluhuran kemanusiaan dan persaudaraan dalam persoalan TKI. Wajar, berdiplomasi memakai alat pertahanan (gunboat diplomacy).
Mencari Solusi
Dalam menyikapi konflik ini, yang pertama kali harus diingat adalah bahwa Malaysia dan Indonesia adalah sama-sama negeri Islam dengan penduduk mayoritas muslim. Sebagai sesama muslim, keduanya tentu adalah bersaudara, meski hidup dalam wilayah berbeda. Persaudaraan Islam tidaklah mengenal batas teritorial. Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah (Q.S. al-Hujurat: 10) Di masa kejayaan Islam, umat Islam di seluruh dunia hidup dalam naungan daulah khilafah. Tapi pada tahun 1924, payung dunia Islam itu runtuh dengan hancurnya Khilafah Utsmani yang berpusat di Turki. Setelah itu, umat yang dulu bersatu terpecah belah menjadi lebih dari 50 negara, termasuk di antaranya Indonesia dan Malaysia dengan beragam konflik yang mewarnai, diantaranya perebutan wilayah sebagaimana kini tengah terjadi. Dari sini bisa ditarik kesimpulan, bahwa sesungguhnya akar persoalan di balik krisis Ambalat bukanlah masalah perbatasan, melainkan karena adanya doktrin nation state yang melahirkan negara bangsa. Doktrin ini pula, bersama dengan paham nasionalisme, yang digunakan oleh penjajah untuk mengerat-ngerat negeri-negeri muslim dan mempertahankan perpecahan di seluruh dunia Islam. Jika konflik ini tidak dapat diselesaikan secara arif dan rasional, akan dengan mudah memicu perang terbuka antara Malaysia dengan Indonesia, sebagaimana yang dituntut oleh sebagian kalangan yang akhir-akhir ini kian nyaring terdengar di Indonesia. Bila itu benar-benar terjadi, kedua negara pasti akan mengalami kerugian besar. Sementara, yang diuntungkan justru pihak lain. Mengapa? Pertama, perang pasti akan menguras sumberdaya kedua negara (dana, manusia, waktu dan tenaga). Sementara, secara ekonomi, karena konsesi eksploitasi migas telah diberikan oleh pemerintah Indonesia dan Malaysia kepada perusahaan minyak asing, maka siapa pun yang kelak akan menguasai blok itu, perusahaan dan negara tempat perusahaan itu berasal itulah yang diuntungkan. Kedua, secara politik, jika masing-masing pihak bersikukuh dengan klaimnya, maka bisa jadi kawasan tersebut akan diinternasionalisasi oleh badan dunia, sebagaimana yang pernah hendak dilakukan terhadap al-Quds. Jika demikian, maka baik Indonesia maupun Malaysia akan sama-sama rugi. Sementara, yang akan diuntungkan lagi-lagi tentu negara-negara yang mempunyai pengaruh paling kuat di badan-badan dunia, baik di Mahkamah Internasional, PBB, maupun yang lain. Ketiga, dari aspek pertahanan dan keamanan, jika konflik bersenjata antara Indonesia dan Malaysia itu sampai pecah, pasti akan menjadi justifikasi bagi pihak asing, khususnya negara-negara penjajah tadi agar bisa melakukan intervensi di kawasan tersebut. Maka persoalan akan menjadi semakin rumit, dan bisa dipastikan konflik tersebut akan berlarut-larut. Ini seperti yang dialami oleh Suriah dan Lebanon, atau India dan Pakistan. Oleh karena itu, penyelesaikan konflik Ambalat harus dikembalikan kepada akar masalah, yakni karena hilangnya persatuan dan kesatuan umat Islam di bawah naungan daulah khilafah. Dan dari melihat duduk persoalan yang sebenarnya sebagaimana dijelaskan di atas, krisis Ambalat tersebut semestinya harus diselesaikan dengan cara damai, bukan melalui konfrontasi, apalagi perang yang akan merusak persaudaraan Islam. Maka, penyelesaian melalui jalur diplomasi inilah yang paling baik, yakni dengan cara mengembalikan penguasaan wilayah itu kepada pihak pertama yang lebih dulu menguasai wilayah itu, yaitu Indonesia. Prinsip ini ditegaskan Rasulullah saw dalam hadits: Mina adalah hak bagi siapa saja yang terlebih dahulu sampai. (H.R. Hakim, Ibn Huzaimah, Ibn Majah, at-Tirmidzi, dan al-Baihaqi) Apalagi berdasar bukti yang ada sesuai dengan hukum kelautan, secara historis wilayah Ambalat sebelumnya merupakan bagian dari wilayah kesultanan Balungan, yang kini menjadi salah satu kabupaten di Kaltim. Dengan demikian, Indonesialah yang lebih berhak terhadap wilayah tersebut. Artinya, pemerintah Indonesia harus bisa membuktikan kepada pemerintah Malaysia, bahwa Indonesialah yang lebih berhak atas wilayah tersebut, baik dari aspek kesejarahan maupun dokumen hukum kelautan. Sementara pihak Malaysia semestinya berbesar hati, bahwa klaim mereka atas blok Ambalat itu sama sekali tidak didukung oleh bukti yang kuat, termasuk bukti sejarah. Sebagai sesama negeri muslim, pemerintah kedua negara harus menyadari bahwa Islam sama sekali melarang konfrontasi, apalagi perang terbuka. Karena itu, segala bentuk konfrontasi harus dihindari. Meski demikian, semestinya pemerintah Indonesia tidak memberikan konsesi pengelolaan blok kaya migas itu kepada perusahaan asing dan swasta. Dalam pandangan syariah, migas merupakan milik rakyat, bukan milik negara. Karenanya, negara tidak berhak memberikan konsesi apapun kepada pihak swasta. Maka, tindakan pemerintah Indonesia memberikan konsesi eksploitasa migas blok Ambalat kepada ENI dan Unocal, atau tindakan pemerintah Malaysia memberikan konsesi kepada Shell melanggar prinsip kepemilikan rakyat. Apalagi kenyataannya, perusahaan yang mendapatkan konsesi itu adalah perusahaan yang notabene berasal dari Inggris dan Amerika yang dikenal sebagai negara penjajah modern.
Khatimah
Akhirnya, persoalan ini semakin menguatkan keyakinan kita, bahwa akar masalahnya adalah karena negeri-negeri muslim yang semula bersatu di bawah naungan bendera Lailaha Illa-Llah Muhammadurrasulullah itu kini telah terpecah belah dengan egonya masing-masing. Diyakini bahwa persoalan semacam ini akan terus berlangsung hingga dunia Islam bersatu kembali di bawah naungan daulah Khilafah. Oleh karena itu, keberadaan daulah khilafah bukan saja wajib, tapi juga perlu untuk menjaga persatuan dan kesatuan negeri-negeri kaum muslim. Jika tidak, umat Islam akan terus-menerus disibukkan dengan riak-riak seperti ini yang membuatnya semakin lemah dan semakin lemah. Sampai kapan?
Flu Babi Menyebar Dengan Sekali Bersin

LONDON - Perubahan cuaca dan suhu bumi berdampak pula pada penyebaran berbagai virus penyakit. Salah satunya adalah virus flu babi yang tengah menjadi perhatian masyarakat dunia. Flu babi disebabkan oleh endemis Orthomyxoviruses yang berasal dari populasi babi. Virus ini dikenal dengan nama H1N1 dan bisa menyebar begitu cepat. Manusia yang sudah terinfeksi virus ini bisa menyebarkan virus kepada orang lain hanya dengan satu kali bersin.Bayangkan saja dalam satu kali bersin terdapat lebih dari 100.000 virus yang bisa menempel dimana saja di sebuah ruang publik, dan berpotensi menyebarkan penyakit kepada orang yang menyentuh benda-benda yang terkena bersin, demikian yang dilansir melalui Huffington Post, Senin (27/4/2009). Ilmuwan Inggris mengatakan sekira sepuluh persen dari populasi di sebuah tempat umum berpotensi mengalami kontak dengan virus melalui bersin. Artinya, satu kali bersin dapat membuat sekira 150 orang terkena flu babi. Maka tak heran jika Organisasi Kesehatan Dunia, WHO saat ini tengah gencar menahan laju penyebaran virus yang telah menginfeksi 20 orang di Amerika dan membunuh 80 orang Mexico."Virus ini berpotensi menjadi pandemi di seluruh dunia. Pasalnya virus ini dapat menyebar dengan cepat dari manusia ke manusia," demikian ujar Margaret Chan, Direktur Umum WHO. (srn)



Selain Flu Babi, Ada Lima Jenis Penyakit Berasal dari Hewan
Flu babi hanya salah satu dari banyak penyakit mematikan yang berasal dari hewan yang kemudian ditularkan kepada manusia.Penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia disebut dengan zoonoses dan menurut para ilmuwan perkembangan penyakit tersebut tengah menanjak. Berikut adalah lima penyakit berbahaya yang ditularkan dari hewan, dikutip dari Live Science, Kamis (30/42009): 1. Pandemi Influenza Influenza berbahaya bisa menyebar dari burung, babi dan binatang lain. Pada 1918 pandemi influenza memakan banyak korban hanya dalam hitungan bulan. Membunuh hampir 50 juta orang. Seperlima dari populasi dunia terinfeksi virus tersebut, dan membunuh lebih dari 25 persen penduduk Amerika. 2. Wabah Bubonic Bubonic disebabkan oleh infeksi bakteri Yersinia pestis yang dibawa oleh hewan pengerat dan juga kucing. Jika terinfeksi, seseorang akan mengalami pembengkakan kelenjar getah bening. Wabah ini menggemparkan dunia pada abad ke 14 dan pada masa itu dikenal juga dengan sebutan Black Death. Saat itu bubonic mewabah dari Eropa, Mesir hingga seluruh kawasan Asia. Sebanyak 75 juta orang tewas dan hanya 360 orang yang sempat terobati. 3. HIV/AIDSVirus HIV yang menyebabkan penyakit AIDS aslinya berasal dari simpanse dan hewan primata lainnya. Diyakini virus ini pertama kali menginfeksi manusia pada abad lalu. Menurut data kesehatan dunia pada akhir 2007 diperkirakan sebanyak 33 juta orang mengidap HIV, termasuk 2,7 juta kasus baru setiap tahunnya. Sebanyak 2 juta orang meninggal dunia termasuk 270.000 anak-anak. Dua pertiga infeksi HIV terjadi di Sub Sahara Afrika. 4. Parasit Gila Parasit aneh bernama Toxoplasma gondii menginfeksi otak manusia. Lebih dari setengah populasi manusia terjangkit virus tersebut, termasuk 50 juta warga Amerika. Konon virus ini meningkatkan resiko terkena neuroticism dan berkembang menjadi schizophrenia. Tempat tinggal utama virus ini adalah pada tubuh kucing. 5. 'Crabs' ditularkan oleh Gorilla Sekira tiga juta tahun lalu manusia menemukan sejenis kutu berbahaya pada tubuh gorilla. Kutu tersebut ternyata menginfeksi penyakit bernama "crabs".Awal penyebarannya adalah jika manusia tidur di sarang gorilla atau memakan dagingnya, demikian kesimpulan yang diperoleh para ilmuwan pada 2007.


Tiga Langkah Menangkal Flu Babi
LONDON - Virus flu babi memang cukup mematikan sama halnya dengan virus flu burung. Bahkan pencegahannya pun bisa dilakukan dengan langkah yang sama.Meski di Indonesia belum pernah ditemukan kasus flu babi, namun siapapun wajib mewaspadainya. Berikut adalah beberapa cara mudah melindungi diri dari laju penyebaran virus tersebut. Seperti yang dilansir melalui Huffington Post, Senin (27/4/2009), yang pertama harus dilakukan adalah menjaga kebersihan tangan. Meski nampak terdengar lumrah, namun dengan mencuci tangan selama 20 detik setelah anda bepergian, nyatanya memang ampuh menahan penyebaran virus yang bisa masuk melalui tangan yang terkontaminasi oleh virus. Hindari kontak dengan dengan orang-orang yang sedang tidak sehat. Begitu pula jika Anda sedang sakit sebaiknya beristirahat dan menjauh dari tempat-tempat keramaian. Hal ini akan mencegah Anda terinfeksi virus ataupun menginfeksi orang lain. Terakhir, kenai gejala penyakitnya dan segera berobat seandainya Anda menemukan tanda-tanda mengidap penyakit tersebut. Flu babi memiliki gejala mirip dengan flu pada umumnya seperti demam, sakit badan, sakit tengggorokan, batuk, berak bahkan muntah.
Global Warming - Apa dan mengapa


Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di Bumi selalu berubah. Dari studi tentang jaman es di masa lalu menunjukkan bahwa iklim bisa berubah dengan sendirinya, dan berubah secara radikal. Apa penyebabnya? Meteor jatuh? Variasi panas Matahari? Gunung meletus yang menyebabkan awan asap? Perubahan arah angin akibat perubahan struktur muka Bumi dan arus laut? Atau karena komposisi udara yang berubah? Atau sebab yang lain?
Sampai baru pada abad 19, maka studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut sebagai gas rumah kaca, yang bisa mempengaruhi iklim di Bumi. Apa itu gas rumah kaca?
Sebetulnya yang dikenal sebagai ‘gas rumah kaca’, adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan Bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, atau kalau tidak, maka tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka Bumi ini.
Pada sekitar tahun 1820, bapak Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos (permeable) oleh cahaya Matahari yang masuk ke permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi merah-infra yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca).
Tiga puluh tahun kemudian, bapak Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbon-dioksida dan uap air, dan molekul-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagai gas rumah kaca, seperti yang kita kenal sekarang. Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi sangat signifikan.
Semenjak penemuan Fourier, Tyndall dan Arrhenius tersebut, ilmuwan semakin memahami bagaimana gas rumah kaca menyerap radiasi, memungkinkan membuat perhitungan yang lebih baik untuk menghubungkan konsentrasi gas rumah kaca dan peningkatan Temperatur. Jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatduakan saja, maka temperatur bisa meningkat sampai 1°C.
Tetapi, atmosfer tidaklah sesederhana model perhitungan tersebut, kenyataannya peningkatan temperatur bisa lebih dari 1°C karena ada faktor-faktor seperti, sebut saja, perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, perubahan permukaan Bumi, baik karena pembukaan lahan, perubahan permukaan, atau sebab-sebab yang lain, alami maupun karena perbuatan manusia. Bukti-bukti yang ada menunjukkan, atmosfer yang ada menjadi lebih panas, dengan atmosfer menyimpan lebih banyak uap air, dan menyimpan lebih banyak panas, memperkuat pemanasan dari perhitungan standar.
Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri, itu saja jika bisa menekan konsentrasi gas rumah kaca supaya stabil pada 430 ppm CO2e (ppm = part per million = per satu juta ekivalen CO2 - yang menyatakan rasio jumlah molekul gas CO2 per satu juta udara kering). Yang pasti, sejak 1900, maka Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7°C.
Lalu, jika memang terjadi pemanasan, sebagaimana disebut; yang kemudian dikenal sebagai pemanasan global, (atau dalam istilah populer bahasa Inggris, kita sebut sebagai Global Warming): Apakah merupakan fenomena alam yang tidak terhindarkan? Atau ada suatu sebab yang signfikan, sehingga menjadi ‘populer’ seperti sekarang ini? Apakah karena Al Gore dengan filmnya “An Inconvenient Truth” yang mempopulerkan global warming? Tentunya tidak sesederhana itu.
Perlu kerja-sama internasional untuk bisa mengatakan bahwa memang manusia-lah yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi Matahari dan keseluruhan permukaan Bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim. Dalam besaran yang dinyatakan sebagai Radiative Forcing sebagai alat ukur apakah iklim global menjadi panas atau dingin (warna merah menyatakan nilai positif atau menyebabkan menjadi lebih hangat, dan biru kebalikannya), maka ditemukan bahwa akibat kegiatan manusia-lah (antropogenik) yang menjadi pendorong utama terjadinya pemanasan global (Gb.1).
Hasil perhitungan perkiraan agen pendorong terjadinya pemanasan global dan mekanismenya (kolom satu), berdasarkan pengaruh radiasi (Radiative Forcing), dalam satuan Watt/m^2, untuk sumber antropogenik dan sumber yang lain, tanda merah dan nilai positif dari kolom dua dan tiga berarti sumbangan pada pemanasan, sedangkan biru adalah efek kebalikannya. Kolom empat menyatakan dampak pada skala geografi, sedangkan kolom kelima menyatakan tingkat pemahaman ilmiah (Level of Scientific Understanding), Sumber: Laporan IPCC, 2007.
Dari gambar terlihat bahwa karbon-dioksida adalah penyumbang utama gas kaca. Dari masa pra-industri yang sebesar 280 ppm menjadi 379 ppm pada tahun 2005. Angka ini melebihi angka alamiah dari studi perubahan iklim dari masa lalu (paleoklimatologi), dimana selama 650 ribu tahun hanya terjadi peningkatan dari 180-300 ppm. Terutama dalam dasawarsa terakhir (1995-2005), tercatat peningkatan konsentrasi karbon-dioksida terbesar pertahun (1,9 ppm per tahun), jauh lebih besar dari pengukuran atmosfer pada tahun 1960, (1.4 ppm per tahun), kendati masih terdapat variasi tahun per tahun.
Sumber terutama peningkatan konsentrasi karbon-dioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Peningkatan konsentrasi metana (CH4), dari 715 ppb (part per billion= satu per milyar) di jaman pra-industri menjadi 1732 ppb di awal 1990-an, dan 1774 pada tahun 2005. Ini melebihi angka yang berubah secara alamiah selama 650 ribu tahun (320 - 790 ppb). Sumber utama peningkatan metana pertanian dan penggunaan bahan bakar fosil. Konsentrasi nitro-oksida (N2O) dari 270 ppb - 319 ppb pada 2005. Seperti juga penyumbang emisi yang lain, sumber utamanya adalah manusia dari agrikultural. Kombinasi ketiga komponen utama tersebut menjadi penyumbang terbesar pada pemanasan global.
Kontribusi antropogenik pada aerosol (sulfat, karbon organik, karbon hitam, nitrat and debu) memberikan efek mendinginkan, tetapi efeknya masih tidak dominan dibanding terjadinya pemanasan, disamping ketidakpastian perhitungan yang masih sangat besar. Demikian juga dengan perubahan ozon troposper akibat proses kimia pembentukan ozon (nitrogen oksida, karbon monoksida dan hidrokarbon) berkontribusi pada pemanasan global. Kemampuan pemantulan cahaya Matahari (albedo), akibat perubahan permukaan Bumi dan deposisi aerosol karbon hitam dari salju, mengakibatkan perubahan yang bervariasi, dari pendinginan sampai pemanasan. Perubahan dari pancaran sinar Matahari (solar irradiance) tidaklah memberi kontribusi yang besar pada pemanasan global.
Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa memang manusia yang berperanan bagi nasibnya sendiri, karena pemanasan global terjadi akibat perbuatan manusia sendiri. Lalu bagaimana dampak Global Warming bagi kehidupan?


Fakta #1: Mencairnya es di kutub utara & selatanPemanasan Global
berdampak langsung pada terus mencairnya es di daerah kutub utara dan kutub selatan. Es di Greenland yang telah mencair hampir mencapai 19 juta ton! Dan volume es di Artik pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari yang ada 4 tahun sebelumnya!
Mencairnya es saat ini berjalan jauh lebih cepat dari model-model prediksi yang pernah diciptakan oleh para ilmuwan. Beberapa prediksi awal yang pernah dibuat sebelumnya memperkirakan bahwa seluruh es di kutub akan lenyap pada tahun 2040 sampai 2100. Tetapi data es tahunan yang tercatat hingga tahun 2007 membuat mereka berpikir ulang mengenai model prediksi yang telah dibuat sebelumnya.
Para ilmuwan mengakui bahwa ada faktor-faktor kunci yang tidak mereka ikutkan dalam model prediksi yang ada. Dengan menggunakan data es terbaru, serta model prediksi yang lebih akurat, Dr. H. J. Zwally, seorang ahli iklim NASA membuat prediksi baru yang sangat mencengangkan:
HAMPIR SEMUA ES DI KUTUB UTARA AKAN LENYAP PADA AKHIR MUSIM PANAS 2012!
Baru-baru ini sebuah fenomena alam kembali menunjukkan betapa seriusnya kondisi ini. Pada tanggal 6 Maret 2008, sebuah bongkahan es seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya) di Antartika runtuh.
Menurut peneliti, bongkahan es berbentuk lempengan yang sangat besar itu mengambang permanen di sekitar 1.609 kilometer selatan Amerika Selatan, barat daya Semenanjung Antartika. Padahal, diyakini bongkahan es itu berada di sana sejak 1.500 tahun lalu. “Ini akibat pemanasan global,” ujar ketua peneliti NSIDC Ted Scambos. Menurutnya, lempengan es yang disebut Wilkins Ice Shelf itu sangat jarang runtuh.
Sekarang, setelah adanya perpecahan itu, bongkahan es yang tersisa tinggal 1.950 kilometer persegi, ditambah 5,6 kilometer potongan es yang berdekatan dan menghubungkan dua pulau. “Sedikit lagi, bongkahan es terakhir ini bisa turut amblas. Dan, separo total area es bakal hilang dalam beberapa tahun mendatang,” ujar Scambos.
“Beberapa kejadian akhir-akhir ini merupakan titik yang memicu dalam perubahan sistem,” ujar Sarah Das, peneliti dari Institut Kelautan Wood Hole. Perubahan di Antartika sangat kompleks dan lebih terisolasi dari seluruh bagian dunia.
Antartika di Kutub Selatan adalah daratan benua dengan wilayah pegunungan dan danau berselimut es yang dikelilingi lautan. Benua ini jauh lebih dingin daripada Artik, sehingga lapisan es di sana sangat jarang meleleh, bahkan ada lapisan yang tidak pernah mencair dalam sejarah. Temperatur rata-ratanya minus 49 derajat Celsius, tapi pernah mencapai hampir minus 90 derajat celsius pada Juli 1983. Tak heran jika fenomena mencairnya es di benua yang mengandung hampir 90 persen es di seluruh dunia itu mendapat perhatian serius peneliti.
Urutan gambar satelit proses keruntuhan Wilkins Ice Shelf. Gambar besar di sebelah kiri diambil pada tanggal 6 Maret 2008. NSIDC mengambil gambar-gambar ini melalui satelit Aqua dan Terra milik NASA.
Fakta #2: Meningkatnya level permukaan laut.
Mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan berdampak langsung pada naiknya level permukaan air laut (grafik di samping menunjukkan hasil pengukuran level permukaan air laut selama beberapa tahun terakhir). Para ahli memperkirakan apabila seluruh Greenland mencair. Level permukaan laut akan naik sampai dengan 7 meter! Cukup untuk menenggelamkan seluruh pantai, pelabuhan, dan dataran rendah di seluruh dunia.
Fakta #3: Perubahan Iklim/cuaca yang semakin ekstrimNASA menyatakan bahwa pemanasan global berimbas pada semakin ekstrimnya perubahan cuaca dan iklim bumi. Pola curah hujan berubah-ubah tanpa dapat diprediksi sehingga menyebabkan banjir di satu tempat, tetapi kekeringan di tempat lain. Topan dan badai tropis baru akan bermunculan dengan kecenderungan semakin lama semakin kuat.
Tanpa diperkuat oleh pernyataan NASA di atas-pun Anda sudah dapat melihat efeknya pada lingkungan di sekitar kita. Anda tentu menyadari betapa panasnya suhu disekitar Anda belakangan ini. Anda juga dapat melihat betapa tidak dapat di prediksinya kedatangan musim hujan ataupun kemarau yang mengakibatkan kerugian bagi petani karena musim tanam yang seharusnya dilakukan pada musim kemarau ternyata malah hujan. Anda juga dapat mencermati kasus-kasus badai ekstrim yang belum pernah melanda wilayah-wilayah tertentu di Indonesia. Tahun-tahun belakangan ini kita semakin sering dilanda badai-badai yang mengganggu jalannya pelayaran dan pengangkutan baik via laut maupun udara.
Bila fenomena dalam negeri masih belum cukup bagi Anda, Anda juga dapat mencermati berita-berita internasional mengenai bencana alam. Badai topan di Jepang dan Amerika Serikat terus memecahkan rekor baru dari tahun ke tahun. Anda dapat mencermati informasi-informasi ini melalui media masa maupun internet. Tidak ada satu benua pun di dunia ini yang luput dari perubahan iklim yang ekstrim ini.
Fakta #4: Gelombang Panas menjadi Semakin GanasPemanasan Global mengakibatkan gelombang panas menjadi semakin sering terjadi dan semakin kuat. Tahun 2007 adalah tahun pemecahan rekor baru untuk suhu yang dicapai oleh gelombang panas yang biasa melanda Amerika Serikat.
Daerah St. George, Utah memegang rekor tertinggi dengan suhu tertinggi mencapai 48° Celcius! (Sebagai perbandingan, Anda dapat membayangkan suhu kota Surabaya yang terkenal panas ‘hanya’ berkisar di antara 30°-37° Celcius). Suhu di St. George disusul oleh Las Vegas dan Nevada yang mencapai 47° Celcius, serta beberapa kota lain di Amerika Serikat yang rata-rata suhunya di atas 40° Celcius. Daerah Death Valley di California malah sempat mencatat suhu 53° Celcius!.
Serangan gelombang panas kali ini bahkan memaksa pemerintah di beberapa negara bagian untuk mendeklarasikan status darurat siaga 1. Serangan tahun itu memakan beberapa korban meninggal (karena kepanasan), mematikan ratusan ikan air tawar, merusak hasil pertanian, memicu kebakaran hutan yang hebat, serta membunuh hewan-hewan ternak.
Pada tahun 2003, daerah Eropa Selatan juga pernah mendapat serangan gelombang panas hebat yang mengakibatkan tidak kurang dari 35.000 orang meninggal dunia dengan korban terbanyak dari Perancis (14.802 jiwa). Perancis merupakan negara dengan korban jiwa terbanyak karena tidak siapnya penduduk dan pemerintah setempat atas fenomena gelombang panas sebesar itu. Korban jiwa lainnya tersebar mulai dari Inggris, Italia, Portugal, Spanyol, dan negara-negara Eropa lainnya. Gelombang panas ini juga menyebabkan kekeringan parah dan kegagalan panen merata di daerah Eropa.
Mungkin kita tidak mengalami gelombang-gelombang panas maha dahsyat seperti yang dialami oleh Eropa dan Amerika Serikat, tetapi melalui pengamatan dan dari apa yang Anda rasakan sehari-harinya. Anda dapat juga merasakan betapa panasnya suhu di sekitar Anda. Cobalah perhatikan seberapa sering Anda mendengar ataupun mungkin mengucapkan sendiri kata-kata seperti: “Panas banget ya hari ini!”
Apabila Anda kebetulan bekerja di dalam ruangan ber-AC dari pagi hingga siang hari sehingga Anda tidak sempat merasakan panasnya suhu belakangan ini, Anda dapat menanyakannya kepada teman-teman ataupun orang disekitar Anda yang kebetulan bekerja di luar ruang. Orang-orang yang sehari-harinya bekerja dengan menggunakan kendaraan terbuka di siang hari bolong (misalnya sales dengan sepeda motor) mungkin dapat menceritakan dengan lebih jelas beta-pa panasnya sinar matahari yang menyengat punggung mereka.
Fakta #5: Habisnya Gletser-Sumber Air Bersih Dunia
Mencairnya gletser-gletser dunia mengancam ketersediaan air bersih, dan pada jangka panjang akan turut menyumbang peningkatan level air laut dunia. Dan sayangnya itulah yang terjadi saat ini. Gletser-gletser dunia saat ini mencair hingga titik yang mengkhawatirkan!.
NASA mencatat bahwa sejak tahun 1960 hingga 2005 saja, jumlah gletser-gletser di berbagai belahan dunia yang hilang tidak kurang dari 8.000 meter kubik! Para ilmuwan NASA kini telah menyadari bahwa cairnya gletser, cairnya es di kedua kutub bumi, meningkatnya temperatur bumi secara global, hingga meningkatnya level air laut merupakan bukti-bukti bahwa planet bumi sedang terus memanas. Dan dipastikan bahwa umat manusialah yang bertanggung jawab untuk hal ini.